• Headlines News :
    Tampilkan postingan dengan label Cerita Lucu. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Cerita Lucu. Tampilkan semua postingan

    Cerita Lucu: Kedatangan Kepala Sekolah Baru

    Pak Burhan merupakan kepala sekolah yang baru saja diangkat. Ketika sampai di sekolah dan hendak menjalankan tugas pertamanya dengan berkeliling sekitar lingkungan sekolahan, dia mendengar suara gaduh dari salah satu kelas yang ada disekitarnya. Dia memasuki ruang kelas yang terdengar berisik, dilihatnya seorang laki-laki yang paling tinggi di kelas itu. Pak Burhan begitu yakin bahwa anak laki-laki itulah yang bersuara paling kelas.

    Dia meraih tangan anak laki-laki itu, tanpa banyak kata dia membawanya ke halaman sekolah, dan berkata,’’Berdiri disitu dan jangan beranjak sedetik pun sebelum aku memperbolehkanmu pergi!’’. Pak Burhan lalu kembali ke ruangan kelas yang ribut tadi dan berkata,’’Anak-anak walaupun kelas kalian sedang kosong, usahakanlah untuk tetap tenang, jangan dibiasakan kebiasaan buruk seperti temanmu tadi, suka ribut, dan berbicara keras, mengganggu kelas yang lain.’’

    Selama setengah jam kepala sekolah yang baru itu menceramahi seluruh isi kelas. ‘’Nah, sekarang apakah ada pertanyaan?’’.tanya Pak Burhan.

    Tiba-tiba seorang murid perempuan berdiri dan berkata,

    ’’Pak, kapan guru kami tadi selesai dihukum?’’

    wkkkkk..


    Cerita Lucu: Serangan Jantung

    Seorang guru yang emang terkenal pemarah sekali harus meninggalkan kelasnya untuk beberapa menit. Ketika dia kembali alangkah terkejutnya ia karena semua murid-muridnya tampak begitu tenang dan tertib. Hal ini tentu tak seperti biasanya karena kebiasaan muridnya yang selalu gaduh, ribut, bertingkah seenaknnya. Tapi kali ini muridnya sedang duduk dengan manis.

    Guru yang masih terkejut keheranan pun berkata,’’Wow, selama saya mengajar kalian, saya tidak pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya. Ini sangat mengejutkan. Tapi tolong beri tahu saya, ada apa sebenarnya dengan kalian???Mengapa kalian sangat tenang dan tertib?sang guru tampak penasaran.

    Akhirnya setelah beberapa saat sang guru menanti jawaban, Meta salah satu muridnya berbicara, ‘’Baiklah, Ibu guru pernah mengatakan kepada kami, jika Ibu masuk kelas kami dan melihat kami sedang duduk tenang dan tertib, Ibu pasti akan langsung terkena serangan jantung.’’

    Sang  guru terperanjat dan tampak shock mendengar pernyataan Meta tadi,”Dasar..anak-anak...!!!”. Kelas pun sontak menjadi riuh gaduh...”huuuuu...!”




    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Lucu: Gara-gara Gerimis

    Cewek: “Abang, abang benar-benar cinta gak sama aku ?”

    Cowok : “Tentu dong”

    Cewek :”Buktinya?”

    Cowok : “WALAUPUN LAUT TERBENTANG LUAS DI ANTARA KITA, AKU AKAN BERENANG UNTUK SAMPAI KE TEMPAT MU”

    Cewek : “terus?”

    Cowok : “WALAUPUN BERIBU-RIBU GUNUNG MENGHALANGI KITA, AKU AKAN MENDAKINYA UNTUK TERUS BERSAMAMU”

    Cewek : “Bener ?”

    Cowok : “Bener dong, dan WALAUPUN BADAI API MENGELILINGI KAMU, AKU AKAN MENEROBOSNYA UNTUK TERUS MENDATANGI KAMU”

    Cewek : “Terus kenapa kemarin gak dateng?”

    Cowok : “GERIMIS…"

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Bolos Sekolah

    Ketika lagi asyik-asyik nonton film, Engkong Ali disamperin cucunya.

    Cucu : “Kek, kalo ada guru aku kasih tau yah”.

    Engkong : “Napa emangnya cu ?”

    Cucu : “Kemaren aku bolos sekolah kek”.

    Engkong : “Dasar anak jaman sekarang”.

    Tak berapa lama kemudian tiba-tiba pintu rumah di ketuk sambil ada yang menyapa “assalamualaikum”. Engkong Ali mengintip dari jendela dan ternyata yang bertamu adalah guru cucunya.


    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Lucu: Sepatu dan Buaya

    Seorang wanita sedang melewati toko dan melihat sepatu dari kulit buaya yang sangat bagus. Wanita itu kemudian masuk ke toko tersebut dan menanyakan harga sepatu tersebut.
    Wanita : “Maaf, sepatu yang dipajang itu berapa harganya ?”

    Pelayan : “Itu harganya Rp. 5juta bu, sepatu kulit buaya asli”.

    Wanita : “Hah…mahal sekali. Masa sepatu seperti itu aja semahal itu”.

    Pelayan : “Yah si ibu, sepatu itu asli bu, kayak gak tau barang bagus aja. Kalau mau murah tangkap sendiri aja buayanya bu”.


    Keesokan harinya, ketika si pelayan pulang kerja, dia melewati sebuah sungai dan melihat wanita yang menanyakan harga sepatu kulit buaya itu sedang berjalan di pinggir sungai. Di dekatnya ada 3 bangkai buaya.

    “Hah…masa ia benar-benar menanggapi omonganku dengan serius”, batin si pelayan.

    Tiba-tiba terdengar letusan senapan. Tak lama kemudian wanita itu keluar dari sungai sambil menyeret bangkai buaya. Lalu wanita itu berkata, “sialan, yang ini juga gak pakai sepatu”.

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Cerita Anak Misteri: Jam Dinding Maju Mundur

    Cerita Anak Misteri: Jam Dinding Maju Mundur
    “Dorr..!”
    “Uhh… Dasar usil!”
    Shasa tertawa cekikikan melihat ekspresi wajah Nia yang kaget bercampur kesal.
    “Habis, pagi-pagi sudah bengong sambil menatap jam dinding,” Shasa berkata sambil masih tersenyum-senyum.
    Nia menunjuk jam dinding yang terpasang di dinding luar ruang guru. “Itu loh, jam dindingnya rusak,” kata Nia.
    “Ah, masa’ sih?” Shasa menatap jam dinding yang dimaksud. Jam itu menunjukkan pukul Tujuh kurang Limabelas menit. Kedua jarumnya bergerak teratur. “Kok kamu bisa bilang jam dindingnya rusak?” tanya Shasa setelah beberapa saat menatap jam dinding.
    “Aku berangkat dari rumah jam Tujuh kurang Limabelas menit. Begitu aku sampai disekolah dan melihat jam dinding itu ternyata masih jam Tujuh kurang Limabelas menit.” Nia menjelaskan.
    “Ah, masa’ sih?” Shasa berkomentar dengan nada sangsi.
    “Uhh.. kamu ini! Ah, masa’ sih.. Ah, masa’ sih.. Ya sudah kalau kamu tidak percaya.” Sambil cemberut Nia membalikkan badan.
    “Eh, eh, jangan ngambek dulu dong,” Shasa berkata sambil mencekal tangan Nia.
    Pada saat itu, lewatlah pak Yono, guru olahraga di dekat mereka. Mau tak mau, Nia terpaksa menghentikan langkahnya.
    “Assalamu’alaikum, Pak!” sapa Shasa. “Eh, sekarang jam berapa ya, Pak?” tanya Shasa sopan.
    Sambil menjawab salam Shasa, pak Yono mengulurkan tangannya. Dengan cepat Shasa melihat waktu yang ditunjukkan jam tangan Pak Yono dan membandingkannya dengan waktu yang ditunjukkan jam dinding.
    “Jam dinding itu tidak rusak ,” bisik Shasa setelah Pak Yono berlalu. “Aku sudah mencocokkannya dengan jam tangan pak Yono.”
    “Siapa tahu jam tangan Pak Yono juga rusak,” kata Nia bersikukuh dengan pendapatnya.
    “Yeee… maksa gitu..,” sekarang giliran Shasa yang berkomentar dengan nada dongkol. “Siapa tahu jam dinding di rumah kamu yang rusak.”
    “Yeee… Masa’ semua jam dinding di rumahku rusak sih,” bantah Nia.
    Berdua mereka berjalan bersisian menuju ruang kelas mereka di lantai tiga. Tak lama kemudian terdengar bel masuk berbunyi.
    Shasa mencolek bahu Nia yang duduk di depannya. “Tuh kan, apa aku bilang, jam dinding di ruang guru tadi tidak rusak,” kata Shasa.
    “Uhh.. kamu ini.. Di rumahku ada tiga buah jam dinding. Semuanya menunjukkan waktu yang sama. Kalau salah satunya rusak sementara dua jam dinding lainnya menunjukkan waktu yang sama, artinya semua jam dinding di rumahku rusak dong,” bantah Nia.
    Shasa terdiam. Aneh juga ya. Masa’ ada jam dinding maju mundur begitu? Shasa jadi penasaran.
    Esok harinya, Shasa sengaja memperhatikan jam dinding di rumahnya sebelum berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, buru-buru ia menuju ruang guru.
    “Ah, sama kok,” gumam Shasa.
    “Gimana?” sebuah suara terdengar dari arah belakang Shasa. “Jam dinding siapa yang rusak?”
    “Jam dinding kamu,” kata Shasa.
    “Yeee… maksa gitu..” Nia menirukan kata-kata Shasa.
    “Loh.. jam di rumahku sama kok dengan jam di sekolah,” kata Shasa tak mau kalah. “Tadi sebelum aku berangkat, aku kan memperhatikan dengan seksama.”
    Nia terdiam. Dahinya berkerut.
    “Gini deh, nanti sepulang sekolah aku akan bertapa memecahkan misteri ini.” Kata Shasa.
    Nia menonjok bahu Shasa. “Uhh.. anak usil seperti kamu mau bertapa? Baru duduk diam sebentar pasti sudah gak tahan.”
    Shasa tertawa-tawa. “Loh.. bertapa ala Shasa itu tidak perlu duduk diam. Itu sih sudah kuno. Pakai bertapa gaya baru dong. Mendengarkan lagu sambil menikmati susu coklat dingin.. mantaaaappp…”
    Nia ikut tertawa-tawa. “Dasaaarrrr…!”
    Malamnya, Nia sedang asyik menonton televisi ketika mama memberitahunya Shasa menelepon.
    “Ada apa, Sha?” tanya Nia.
    “Sekarang kamu lihat deh jam dinding di rumah kamu!” suara Shasa terdengar bersemangat di telepon.
    Nia menoleh ke arah jam dinding.
    “Pasti sekarang jam dinding kamu menunjukkan pukul 7.15. iya kan?”
    “Iya,” jawab Nia. “Memangnya kenapa?”
    “Berarti aku sudah berhasil memecahkan misteri jam dinding yang maju mundur,” Shasa berkata dengan nada riang.
    “Apanya yang dipecahkan?” tanya Nia bingung. “Kamu kan tadi hanya bertanya jam berapa sekarang.”
    “Besok deh aku ceritakan selengkapnya. Sekarang aku mau kembali bertapa memecahkan misteri-misteri lainnya.”
    “Dasaarrrr…” Nia berseru gemas kemudian menutup telepon. Ah, dia jadi tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu Shasa.
    Keesokan harinya, Shasa menyodorkan selembar surat kabar.
    “Apaan nih?” tanya Nia bingung.
    “Kamu lihat deh di halaman yang memuat acara-acara televisi,” kata Shasa.
    Nia membuka surat kabar yang disodorkan Shasa masih dengan perasaan bingung.
    “Ingat gak semalam ketika aku menelepon kamu, kamu sedang menonton acara apa?”
    Nia menyebutkan sebuah acara di salah satu stasiun televisi.
    “Acara itu baru mulai kan?” tanya Shasa lagi.
    Nia menganggukkan kepalanya. “Terus apa hubungannya dengan misteri jam dinding maju mundur yang katanya sudah berhasil kamu pecahkan?” tanya Nia.
    “Aduuhh… kamu lihat dong di surat kabar itu. Acara yang kamu tonton semalam itu dimulai pada pukul berapa,” Shasa berkata dengan nada tidak sabar.
    “Pukul Tujuh malam,” jawab Nia setelah memperhatikan susunan acara televisi.
    “Ingat gak, jam dinding kamu menunjukkan pukul berapa ketika aku meneleponmu semalam?” tanya Shasa lagi.

    “Pukul 7.15.” jawab Nia. Tak lama kemudian kedua matanya membesar. “Apa itu artinya… artinya..”
    Shasa meneruskan perkataan Nia yang terputus. “.. Kalau kamu masih ragu-ragu, nanti pulang sekolah kamu cek lagi saja.” Shasa mengakhiri kata-katanya.
    “Wah.. kamu memang hebat. Tidak sia-sia kemarin kamu bertapa,” puji Nia.
    “Shasa gitu loh,” kata Shasa sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.
    “Dasaaaaarrrr…!”
    Eh, kalian sudah tidak bingung lagi dengan misteri jam dinding yang maju mundur itu kan?

    Ibu Nia sengaja memajukan lima belas menit semua jam yang ada di rumah Nia. Tujuannya supaya Nia tidak terlambat tiba di sekolah. Itu sebabnya ketika Nia tiba di sekolah dan melihat jam dinding di luar ruang guru, ia menjadi bingung karena jam dinding itu menunjukkan waktu yang sama dengan saat dia berangkat ke sekolah. Padahal Nia tentu memerlukan waktu tempuh dari rumahnya hingga tiba di sekolah, bukan? Artinya tidak mungkin jam dinding di sekolah menunjukkan waktu yang sama dengan saat Nia berangkat ke sekolah.

    Ketika Shasa menelepon Nia malam itu, jam dinding di rumah Nia menunjukkan pukul 7.15 menit. Padahal menurut jadwal acara televisi yang ada di surat kabar, acara itu seharusnya dimulai pukul 7.00.
    Nah, kalau kamu mengalami kejadian seperti Nia, jangan terburu-buru menyimpulkan jam dinding di sekolahmu rusak ya! Hehehe…



    Erlita Pratiwi

    erlitapratiwi @cbn .net .id

    Cerita Anak Misteri: Jam Dinding Maju Mundur


    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :